"Saya hanya mau menyapa Tuhan. Sahabatku....”
Page 1 of 1 • Share •
"Saya hanya mau menyapa Tuhan. Sahabatku....”
Adalah seorang anak kecil yang tinggal di suatu keluarga yang tidak seberapa mampu. Kehidupannya saja pas-pasan. Setiap hari, ia harus berjalan kaki ke sekolahnya. Untungnya, jarak ke sekolahnya itu tidak terlalu jauh. Sebelum sampai di sekolah, terdapat sebuah gereja, dan setelah itu ia harus menyeberangi sebuah jalan raya yang besar. Dan setelah berjalan beberapa saat, barulah ia dapat sampai di sekolah. Nah, setiap hari, anak kecil ini selalu menyempatkan dirinya untuk pergi ke gereja itu. Meski hanya sebentar, selalu saat berangkat dan saat pulang sekolah, anak ini pergi ke gereja tersebut. Dan hal ini terus dia lakukan sepanjang hari-harinya.
Hingga suatu saat, pastor dari gereja tersebut, mulai memperhatikan apa yang dilakukan anak kecil ini. Lalu setelah beberapa saat mengamati anak kecil ini, sang pastor bertanya pada anak ini di saat pagi hari, “Nak, bisa saya bantu?”. Tidak, Pak. Saya hanya mau menyapa Tuhan. Sahabatku....” Jawab anak kecil ini dengan polos. Lalu anak kecil itu masuk ke dalam, lalu duduk di bangku gereja yang terdepan, melipat tangan dan mulai berdoa “Selamat pagi, Tuhan. Terima kasih ya atas nafas kehidupan ini dan keluarga yang menyayangi aku. Meski akhir-akhir ini papa dan mama sering bertengkar, tapi aku tetep menyayangi mereka koq...” katanya, “Juga meski mama sering memukuli aku, tapi aku juga tetap menyayangi mama kok, Tuhan. Sakit sih... tapi aku tahu semuanya itu juga untuk kebaikanku.” (sambil menunduk).
Setelah anak kecil selesai berdoa, sang pastor ini bertanya padanya, “Nak, maukah kamu bapak bantu untuk menyebrangi jalan raya ini?” Lalu jawabnya, “Terima kasih, Pak Pastor, saya menyeberang sendiri aja, tidak merepotkan kok.” Lalu sepulangnya dari sekolah, kembalilah dia ke gereja ini, dan duduk di bangku yang paling depan sambil berkata, “Tuhan, nilai ulanganku dapat jelek... Aku pasti dimarahi dan dipukul lagi sama mama. Kuatkan aku ya Tuhan, agar aku tetap sabar menanggung semuanya ini.” Lalu katanya lagi “juga berkati papa dan mama ya Tuhan... agar mereka tidak suka bertengkar lagi, tapi hidup damai dan rukun. Sekian dulu ya Tuhan, sahabatku. Aku harus pulang ke rumah, nanti mama kebingungan mencariku. Selamat tinggal Tuhan, selamat bertemu besok pagi...” Lalu segeralah dia pulang ke rumah.
Dari ilustrasi ini, kita dapat menangkap apa yang dilakukan oleh anak kecil yang polos ini setiap hari. Apa itu? MENYAPA TUHAN, SAHABATNYA. Seberapa sering kita menyapa Tuhan? Mungkin kelihatannya ini adalah hal yang sangat simple dan sederhana. Tapi justru saat kita lupakan hal yang kecil ini, kita sudah melupakan satu point yang sangat penting dalam menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. (Lukas 16:10). Seberapa seringkah kita berbincang-bincang sejenak dengan Tuhan? Atau karena sibuknya jadwal kita, pelajaran ataupun pelayanan kita, sehingga hubungan kita dengan Tuhan hanya sekedar rutinitas? Hey Guys Tuhan bukanlah Allah yang mati seperti patung. Tuhan pun dapat merasa kesepian jika kita hanya mementingkan jadwal-jadwal kita dan melupakan Dia sebagai Allah yang HIDUP. Tuhan tidak minta waktu berjam-jam untuk kita mengobrol-ngobrol dengan-Nya. Dia hanya minta sedikit waktu dari 1440 menitmu sehari untuk bercakap-cakap dengam-Nya. So, mulailah untuk memperhatikan hal yang kecil, karena jika lidah yang kecil dapat memegahkan perkara yang besar (Yakobus 3:5) apalagi tentang perkara kecil ini. Tuhan sedang menantimu untuk datang ke pangkuan-Nya dan bercakap-cakap dengan-Nya.
(Ivan ^^)
Hingga suatu saat, pastor dari gereja tersebut, mulai memperhatikan apa yang dilakukan anak kecil ini. Lalu setelah beberapa saat mengamati anak kecil ini, sang pastor bertanya pada anak ini di saat pagi hari, “Nak, bisa saya bantu?”. Tidak, Pak. Saya hanya mau menyapa Tuhan. Sahabatku....” Jawab anak kecil ini dengan polos. Lalu anak kecil itu masuk ke dalam, lalu duduk di bangku gereja yang terdepan, melipat tangan dan mulai berdoa “Selamat pagi, Tuhan. Terima kasih ya atas nafas kehidupan ini dan keluarga yang menyayangi aku. Meski akhir-akhir ini papa dan mama sering bertengkar, tapi aku tetep menyayangi mereka koq...” katanya, “Juga meski mama sering memukuli aku, tapi aku juga tetap menyayangi mama kok, Tuhan. Sakit sih... tapi aku tahu semuanya itu juga untuk kebaikanku.” (sambil menunduk).
Setelah anak kecil selesai berdoa, sang pastor ini bertanya padanya, “Nak, maukah kamu bapak bantu untuk menyebrangi jalan raya ini?” Lalu jawabnya, “Terima kasih, Pak Pastor, saya menyeberang sendiri aja, tidak merepotkan kok.” Lalu sepulangnya dari sekolah, kembalilah dia ke gereja ini, dan duduk di bangku yang paling depan sambil berkata, “Tuhan, nilai ulanganku dapat jelek... Aku pasti dimarahi dan dipukul lagi sama mama. Kuatkan aku ya Tuhan, agar aku tetap sabar menanggung semuanya ini.” Lalu katanya lagi “juga berkati papa dan mama ya Tuhan... agar mereka tidak suka bertengkar lagi, tapi hidup damai dan rukun. Sekian dulu ya Tuhan, sahabatku. Aku harus pulang ke rumah, nanti mama kebingungan mencariku. Selamat tinggal Tuhan, selamat bertemu besok pagi...” Lalu segeralah dia pulang ke rumah.
Dari ilustrasi ini, kita dapat menangkap apa yang dilakukan oleh anak kecil yang polos ini setiap hari. Apa itu? MENYAPA TUHAN, SAHABATNYA. Seberapa sering kita menyapa Tuhan? Mungkin kelihatannya ini adalah hal yang sangat simple dan sederhana. Tapi justru saat kita lupakan hal yang kecil ini, kita sudah melupakan satu point yang sangat penting dalam menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. (Lukas 16:10). Seberapa seringkah kita berbincang-bincang sejenak dengan Tuhan? Atau karena sibuknya jadwal kita, pelajaran ataupun pelayanan kita, sehingga hubungan kita dengan Tuhan hanya sekedar rutinitas? Hey Guys Tuhan bukanlah Allah yang mati seperti patung. Tuhan pun dapat merasa kesepian jika kita hanya mementingkan jadwal-jadwal kita dan melupakan Dia sebagai Allah yang HIDUP. Tuhan tidak minta waktu berjam-jam untuk kita mengobrol-ngobrol dengan-Nya. Dia hanya minta sedikit waktu dari 1440 menitmu sehari untuk bercakap-cakap dengam-Nya. So, mulailah untuk memperhatikan hal yang kecil, karena jika lidah yang kecil dapat memegahkan perkara yang besar (Yakobus 3:5) apalagi tentang perkara kecil ini. Tuhan sedang menantimu untuk datang ke pangkuan-Nya dan bercakap-cakap dengan-Nya.
(Ivan ^^)
_________________
Kopi bukanlah minuman yang baik bagi tubuh kita. Saya lebih senang hanya menganggap secangkir kopi sebagai simbol yang mengandung arti : "Mengambil waktu sejenak untuk merenung..." Tidak lebih dari itu...

Secangkir Kopi- Moderator

- Posts: 8
Join date: 2008-08-16
Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum





